Menyikapi Pro dan Kontra Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

 

Opini : Menyikapi Pro Kontra Vaksinasi di Masyarakat



Kalau kita simak di dunia maya, pro-kontra vaksinasi masih cukup kuat. Arus yang menguatkan rencana vaksinasi dengan yang melemahkannya masih berimbang. Di YouTube, banyak beredar konten berupa analisis yang intinya dapat melemahkan keputusan masyarakat untuk siap divaksin. Polemik soal vaksinasi ini terjadi salah satunya karena informasi terkait vaksinasi tak lengkap, tak terbuka, dan sepotong-sepotong sehingga memicu keraguan masyarakat.

Kekosongan informasi yang lengkap dan kredibel melahirkan sikap bimbang masyarakat. Situasi ini justru dimanfaatkan oleh para kreator narasi di medsos yang mengunggah beragam pesan yang sulit diuji kebenarannya. Sementara itu, tak banyak masyarakat yang mampu memilih dan memilah informasi yang benar dan yang abal-abal di medsos. Kenyataan inilah yang semakin memperkeruh suasana dan mengarah pada penggembosan program vaksinasi.

Pemerintah selama ini juga tak mengedepankan cara berpikir sains kepada masyarakat. Budaya berpikir ilmiah pada masyarakat kita memang belum cukup kuat. Tak jarang masyarakat sulit diajak memahami sesuatu yang ilmiah. Tak sedikit pula orang berpendapat tentang vaksin tanpa sandaran pengetahuan ilmiah. Alhasil, muncullah analisis serampangan dan kesimpulan yang keliru.

Menyampaikan pesan tentang vaksinasi memang bukan pekerjaan gampang. Berbagai narasi pesan tentang vaksin yang ilmiah dan rumit tak mudah disampaikan kepada masyarakat yang heterogen. Kemampuan para penyampai pesan (komunikator) vaksin dalam membangun narasi yang mudah dipahami masyarakat menjadi hal penting. Para ahli kesehatan dan vaksin dituntut mampu memahamkan sesuatu yang ilmiah dengan bahasa populer kepada masyarakat awam.

Menurut penelitian dari 16.686 responden terdapat 30 persen responden yang menyatakan tidak yakin akan keamanan vaksin, 22 persen yakin tidak efektif, 12 persen takut efek samping demam dan sakit, 13 persen tidak percaya vaksin, 8 persen keyakinan agama, dan 15 persen lain-lain. Disamping jumlah penolakan vaksin tidak sedikit juga responden yang menerima vaksin yaitu dari 112.888 jiwa terdapat 45,7 persen sampai 74 persen responden yang menyatakan bersedia menerima vaksin.

Program vaksinasi dengan target 70 persen populasi atau 182 juta jiwa untuk mencapai syarat kekebalan komunal (herd immunity) merupakan ikhtiar mulia. Namun, jangan sampai niat baik ini tak berjalan mulus gegara keliru cara mengomunikasikannya. Masih ada waktu untuk berbenah dan menyusun aksi yang lebih terukur dan tepat sasaran. Perlu digencarkan dialog antara ilmuwan dan publik. Kecakapan komunikasi yang baik para komunikator pemerintah dan ilmuwan kesehatan perlu terus ditingkatkan.

Pemberian informasi yang merata tentang tujuan vaksin dangat penting agar masyarakat faham dan menerima vaksinasi. Dimana tujuan vaksin yaitu Menurunkan kesakitan & kematian akibat COVID-19 Mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) untuk mencegah penularan dan melindungi kesehatan masyrakat Melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh Menjaga produktifitas dan meminimalisasi dampak sosial dan ekonomi.

Untuk menghindari efek samping vaksin masyarakat perlu memastikan dirinya layak vaksin dan tidak memiliki Riwayat kontak erat dengan pasien positif COVID-19 dalam 14 hari terakhir riwayat kontak dengan pasien yang menunjukkan demam atau gejala sakit saluran pernapasan, riwayat hasil positif pada pemeriskaan RT-PCR swab tenggorok Hasil reaktif pada pemeriksaan antibodi IgM dan IgG SARS-CoV-2, Hamil / berencana hamil dalam 2 bulan ke depan, riwayat asma, alergi terhadap vaksin atau komposisi dalam vaksin, dan reaksi alergi terhadap vaksin yang parah, riwayat penyakit pembekuan darah tidak terkontrol, kelainan atau penyakit kronis (gangguan jantung berat, hipertensi tidak terkontrol, DM, penyakit ginjal, penyakit hati, tumor, dll), riwayat gangguan sistem imun / mendapat terapi yang mengganggu sistem imun dalam 4 minggu terakhir, riwayat epilepsi / penyakit gangguan saraf (penurunan fungsi saraf) sebelum menerima vaksin agar tidak menimbulkan ketakutan masyarakat yang lain jika terjadi efek samping. Terkadang seseorang tidak menyadari adanya penyakit tersebut dalam dirinya sehingga sangat penting bagi tenaga kesehatan melakukan assesment ulang sebelum menyuntikkan vaksin kepada penerima vaksin.

Kompleksitas sains harus mampu dikomunikasikan ke dalam bahasa yang mudah dimengerti dan menarik bagi masyarakat luas. Harapannya, masyarakat mudah memahami sains dan tak mudah termakan isu-isu hoaks terkait vaksin yang banyak dibumbui teori konspirasi. Pembuktian vaksin yang efektif, aman dan halal akan meningkatkan keyakinan masyarakat untuk menerima vaksin. Adapun berbagai keraguan atau informasi yang tidak jelas kebenarannya, terkait merek dan asal negara dari vaksin itu bukan lagi hal yang perlu diperdebatkan. Saat ini yang utama adalah upaya pencegahan dengan segala bentuk yang dapat dilakukan adalah untuk memerangi virus yang sudah menjadi peandemi dalam setahun terakhir. Walaupun vaksin ini tidak serta merta memusnahkan virus ini, tetapi paling tidak bahwa semua negara dan manusia di bumi memiliki komitmen yang sama untuk bisa keluar dari krisis multidimensi dari adanya virus covid-19.


Sumber :

World Health Organization (2020). Coronavirus

https://covid19.go.id/vaksin-covid19

https://www.alodokter.com/mengenal-vaksin-covid-19-dari-pemerintah

http://lp2m.unmul.ac.id/webadmin/public/upload/files/9584b64517cfe308eb6b115847cbe8e7.pdf

https://www.youtube.com/watch?v=S-HwhWlW5XM

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengatasi Mood yang Kacau Ketika PMS

Pandangan Hukum, Agama, dan Etika tentang Euthanasia, Aborsi, dan Transplantasi Organ